Apa Itu Landed Cost? Cara Menghitung Biaya Sebenarnya dalam Bisnis
Keuangan | 27 Agustus 2026
Insight Bisnis / Keuangan / Jangan Sampai Keliru! Perbedaan Pendapatan, Omzet, dan Laba
2 September 2026 | marketing
Dalam menjalankan bisnis, ada banyak istilah keuangan yang sering digunakan secara bergantian. Tiga di antaranya adalah pendapatan, omzet, dan laba.
Sekilas, ketiganya memang terdengar memiliki arti yang sama karena sama-sama berkaitan dengan uang yang diperoleh bisnis. Namun, sebenarnya terdapat perbedaan penting yang perlu dipahami oleh setiap pelaku usaha.
Kesalahan membedakan omzet dan laba, misalnya, dapat membuat pemilik bisnis merasa usahanya menghasilkan keuntungan besar, padahal setelah dikurangi berbagai biaya, keuntungan yang diperoleh jauh lebih kecil.
Lalu, apa perbedaan pendapatan, omzet, dan laba? Simak penjelasan berikut.
Omzet adalah total nilai penjualan yang diperoleh bisnis dalam periode tertentu sebelum dikurangi biaya-biaya.
Sederhananya, omzet menunjukkan berapa besar nilai penjualan yang berhasil dihasilkan bisnis.
Misalnya, sebuah kedai menjual 500 gelas minuman dengan harga Rp20.000 per gelas dalam satu bulan.
Maka:
Omzet = 500 × Rp20.000 = Rp10.000.000
Artinya, omzet kedai tersebut selama satu bulan adalah Rp10 juta.
Namun, angka tersebut belum menunjukkan berapa keuntungan yang sebenarnya diperoleh pemilik usaha.
Istilah pendapatan dapat memiliki penggunaan yang berbeda tergantung konteks akuntansi dan bisnis.
Secara umum, pendapatan merupakan penghasilan yang diperoleh bisnis dari aktivitas usahanya dalam suatu periode. Dalam praktik sehari-hari, istilah pendapatan sering digunakan untuk menyebut uang atau nilai yang diperoleh dari penjualan.
Karena itu, dalam percakapan bisnis sehari-hari, omzet dan pendapatan kerap dianggap sama.
Namun, dalam pencatatan akuntansi, pengertian pendapatan dapat lebih spesifik dan tidak selalu identik dengan kas yang diterima pada saat itu.
Misalnya, bisnis melakukan penjualan secara kredit. Pendapatan dari transaksi tersebut dapat diakui sesuai prinsip akuntansi meskipun pembayaran dari pelanggan baru diterima kemudian.
Jadi, pemilik usaha sebaiknya memperhatikan konteks ketika menggunakan istilah pendapatan.
Berbeda dengan omzet, laba adalah keuntungan yang tersisa setelah pendapatan atau penjualan dikurangi biaya yang berkaitan dengan bisnis.
Secara sederhana:
Laba = Pendapatan – Beban/Biaya
Biaya tersebut dapat meliputi:
Karena itulah, omzet yang besar belum tentu berarti laba yang besar.
Misalnya sebuah toko memiliki penjualan sebesar Rp50 juta dalam satu bulan.
Maka omzetnya adalah:
Rp50.000.000
Kemudian toko tersebut memiliki biaya:
Total biaya:
Rp42.000.000
Maka laba sederhananya:
Rp50.000.000 – Rp42.000.000 = Rp8.000.000
Jadi, meskipun omzet toko mencapai Rp50 juta, laba yang tersisa hanya Rp8 juta sebelum mempertimbangkan komponen lain yang mungkin relevan seperti pajak atau biaya non-operasional.
Ini merupakan kesalahan yang cukup sering terjadi dalam bisnis.
Bayangkan:
Bisnis A
Omzet: Rp100 juta
Total biaya: Rp95 juta
Laba: Rp5 juta
Bisnis B
Omzet: Rp50 juta
Total biaya: Rp35 juta
Laba: Rp15 juta
Bisnis A memiliki omzet dua kali lebih besar dibandingkan Bisnis B. Namun, laba Bisnis B justru lebih besar.
Artinya, jangan hanya melihat omzet ketika menilai kesehatan bisnis.
Pemilik usaha juga perlu mengetahui berapa biaya yang dikeluarkan dan berapa laba yang benar-benar dihasilkan.
Agar lebih mudah diingat:
Fokus pada total nilai penjualan.
Fokus pada penghasilan yang diperoleh bisnis, dengan pengertian yang dapat lebih luas atau lebih spesifik tergantung konteks pencatatan.
Fokus pada keuntungan setelah pendapatan dikurangi biaya atau beban yang relevan.
Sederhananya:
Penjualan → Pendapatan/Omzet → Dikurangi Biaya → Laba
Namun, dalam pencatatan akuntansi formal, hubungan dan pengakuan setiap unsur perlu mengikuti prinsip akuntansi yang digunakan bisnis.
Memahami istilah keuangan bukan hanya penting bagi perusahaan besar. UMKM juga perlu memahaminya.
Pemilik usaha dapat mengetahui apakah bisnis hanya ramai transaksi atau benar-benar menghasilkan keuntungan.
Informasi biaya dan laba membantu bisnis menentukan apakah harga jual saat ini sudah memberikan margin yang sesuai.
Jika omzet meningkat tetapi laba tidak bertambah, bisa jadi biaya bisnis juga meningkat terlalu besar.
Data keuangan membantu pemilik menentukan apakah perlu menaikkan harga, mengurangi biaya, mengubah strategi pemasaran, atau mengevaluasi produk tertentu.
Meningkatkan laba tidak selalu berarti harus mengejar omzet sebesar-besarnya.
Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan.
Bisnis dapat meningkatkan jumlah transaksi, memperluas pasar, atau menawarkan produk tambahan.
Evaluasi harga jual berdasarkan biaya, margin yang diinginkan, kondisi pasar, dan nilai produk.
Identifikasi pengeluaran yang tidak memberikan manfaat signifikan terhadap bisnis.
Gunakan teknologi untuk mengurangi pekerjaan manual dan mengoptimalkan proses bisnis.
Produk dengan penjualan tinggi belum tentu memberikan margin terbaik. Evaluasi penjualan dan margin secara bersamaan.
Kesalahan lainnya adalah hanya mencatat uang yang diterima tanpa mencatat pengeluaran.
Misalnya, dalam satu hari bisnis menerima Rp3 juta dari pelanggan. Pemilik langsung menganggap hari tersebut menghasilkan keuntungan Rp3 juta.
Padahal, pada hari yang sama bisnis mungkin mengeluarkan:
Tanpa pencatatan pengeluaran, pemilik akan kesulitan mengetahui keuntungan sebenarnya.
Karena itu, pencatatan pemasukan dan pengeluaran harus dilakukan secara konsisten.
Agar data keuangan lebih mudah dipantau, pelaku usaha dapat menggunakan aplikasi kasir seperti Kasir Pintar.
Kasir Pintar membantu bisnis mencatat transaksi penjualan, mengelola stok, mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta memantau laporan sesuai fitur yang tersedia.
Dengan pencatatan digital, pemilik usaha dapat lebih mudah mengetahui perkembangan transaksi dan menggunakan data tersebut sebagai dasar evaluasi.
Misalnya, ketika penjualan meningkat tetapi keuntungan tidak ikut meningkat, pemilik dapat melakukan pengecekan terhadap harga pokok, biaya operasional, atau strategi harga.
Pencatatan yang rapi juga membantu bisnis mengurangi risiko data transaksi hilang atau terlupakan.
Baca Juga : Kustomisasi E-Receipt: Bikin Bukti Transaksi Sekaligus Media Branding
Baca Juga : Pengunjung Banyak tapi Pembeli Sedikit? Ini Cara Meningkatkan Konversi Penjualan
Omzet, pendapatan, dan laba bukanlah istilah yang selalu dapat digunakan secara bergantian.
Omzet umumnya digunakan untuk menggambarkan total nilai penjualan sebelum dikurangi biaya. Pendapatan merupakan penghasilan bisnis yang pengertiannya dapat bergantung pada konteks pencatatan. Sementara itu, laba merupakan keuntungan yang tersisa setelah pendapatan dikurangi biaya atau beban yang relevan.
Jadi, ketika seseorang mengatakan bisnisnya memiliki omzet Rp100 juta, jangan langsung menganggap bisnis tersebut memperoleh laba Rp100 juta.
Bisa saja sebagian besar omzet tersebut digunakan untuk membeli stok, membayar gaji, sewa, pemasaran, dan berbagai biaya lainnya.
Karena itu, biasakan mencatat transaksi, pemasukan, pengeluaran, dan biaya bisnis secara rutin. Dengan bantuan aplikasi seperti Kasir Pintar, pencatatan dapat dilakukan secara lebih praktis sehingga pemilik usaha dapat melihat kondisi bisnis berdasarkan data.
Omzet menunjukkan seberapa besar penjualan. Laba menunjukkan seberapa besar keuntungan yang benar-benar tersisa. Jangan sampai tertukar!
Biar pencatatan tokomu semakin terorganisir, yuk pakai aplikasi kasir, coba dulu sekarang Gratis 30 Hari Percobaan Loh !
Salah satu metode yang mudah dan praktis dalam mencatat penjualan adalah dengan menggunakan Aplikasi Android seperti Kasir Pintar
Kasir Pintar bisa mencatat setiap penjualan dari usahamu dan melakukan beberapa kegiatan seperti :
- Atur stok barang
- Mencatat berbagai macam metode transaksi penjualan
- Laporan usaha lengkap
- Manajemen Pelanggan (CRM)
- Manajemen Karyawan & Cabang Usaha dan masih banyak lagi
Kini hadir! Pintar HR sudah bisa diunduh di Playstore dan siap menjadi solusi terbaik untuk manajemen karyawan yang lebih efisien dan terorganisir. Dengan sistem HRIS berbasis cloud, Anda bisa memantau kehadiran, mencatat rekap absensi, hingga mengelola penggajian secara otomatis dari mana saja.
✅ Harga Terjangkau – Mulai dari Rp 260 per staff per hari
✅ Diskon 50% untuk pengguna Kasir Pintar Pro
✅ Fitur lengkap: Absensi online, rekap kehadiran, hingga laporan gaji
✅ Memudahkan siklus penggajian, tanpa drama akhir bulan
Dengan Pintar HR, Anda tak perlu lagi pusing urus data karyawan manual. Semuanya bisa dilakukan lewat satu aplikasi yang praktis dan efisien. Waktunya upgrade manajemen SDM Anda!
📲 Download sekarang: https://bit.ly/PintarHR
🌐 Info lengkap: pintarhr.com
Artikel Terkait
Artikel Populer
Mulai Bisnis
Bersama Kasir Pintar
Jalankan bisnis secara otomatis dengan
Aplikasi Kasir Pintar dan Coba Gratis selama
30 Hari tanpa syarat