10 Kebiasaan Pengusaha yang Hobi Bangkrut

Jika kita lihat banyak sekali usaha kecil yang akhirnya gulung tikar atau bangkrut. 

Menjalankan usaha memang terkadang tidak semudah yang kita bayangkan. Bangkrut merupakan resiko terbesar yang selalu menghantui setiap bisnis.

Apa itu Bangkrut?

Menurut KBBI, bangkrut adalah sebuah perusahaan atau toko yang menderita kerugian besar sehingga menguras aset perusahaan.

Namun secara umum, bangkrut adalah ketidakmampuan suatu usaha atau bisnis dalam membayar kembali utang-utang dari kreditur mereka.

Sebagai pebisnis, tidak seorang pun berharap bisnisnya mengalami bangkrut. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya untuk belajar dari bisnis lain yang pernah mengajukan kebangkrutan untuk menghindari nasib yang sama.

Jenis-jenis bangkrut

Bangkrut sebenarnya hal yang biasa terjadi dalam dunia bisnis. Hal ini disebabkan oleh kegagalan yang terjadi di dalam perusahaan. Bangkrut bisa terjadi dalam dua bentuk, yakni:

1. Bangkrut karena Kegagalan Keuangan

Kebangkrutan akibat kegagalan keuangan atau biasa disebut financial distress terjadi saat perusahaan mengalami kesulitan dana, baik dana kas maupun modal untuk kegiatan operasional.

Untuk mencegah terjadinya kegagalan finansial ini, perusahaan dapat menggunakan sebagian dari asset liability management.

2. Bangkrut karena Kegagalan Ekonomi

Bangkrut karena kegagalan ekonomi atau economic distressed terjadi saat perusahaan kehilangan pendapatan sehingga tidak mampu membiayai kegiatan operasionalnya.

Artinya bahwa tingkat laba perusahaan jauh lebih sedikit dibandingkan biaya modal atau nilai arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban.

Jenis bangkrut ini paling banyak terjadi di rana UMKM, bisa kita lihat saat terjadinya pandemi ini. Banyak UMKM yang bangkrut karena kondisi ekonomi yang carut marut saat adanya pembatasan oleh kebijakan terkait virus COVID-19

Mengapa begitu banyak perusahaan dan usaha kecil bangkrut?

Memulai bisnis memang tidak mudah, dan ada banyak statistik yang menunjukkan tingkat kelangsungan hidup perusahaan yang bangkrut.  

Pada tahun pertama sejak didirikan, hanya sekitar 20% perusahaan yang bertahan, dan dalam lima tahun pertama, hampir separuh perusahaan tutup. 

Apakah Kamu seorang pemilik bisnis yang berpengalaman atau seorang pengusaha pemula, statistik di atas sangat menakutkan.

Namun, jangan sampai angka-angka tersebut melemahkan jiwa wirausaha kita. Sebaliknya, cobalah untuk memahami mengapa banyak bisnis kecil gagal. Pelajarilah agar Kamu tidak mengalami dilema yang sama.  

Pada umumnya, sebuah bisnis menjadi bangkrut disebabkan oleh 7 alasan utama ini. Simak, faktor penyebab bangkrutnya sebuah bisnis berikut ini. 

1. Tidak ada Rencana Bisnis yang Matang

Faktor ini paling sering dijumpai di kalangan pengusaha kecil yang baru memulai usaha sendiri.

Apa yang menurut Kamu tampak seperti ide bisnis yang bagus di atas kertas mungkin tidak berfungsi dengan baik di lapangan.  

Ini tidak berarti bahwa Kamu tidak harus mengabaikan antusiasme Kamu. Sebaliknya, Kamu perlu makan lebih banyak untuk melakukan riset dan perencanaan bisnis.

Rencana bisnis mengharuskan Kamu untuk menentukan nilai unik Kamu sendiri – apa yang membedakan produk atau layanan Kamu dari pesaing Kamu. 

2. Pengelolaan Keuangan yang Salah

Meskipun terlihat sebagai perusahaan yang sehat, namun ternyata saat ditilik lebih dalam terjadi pengelolaan keuangan yang salah dan menyebabkan bisnis bangkrut. Hal ini disebabkan oleh lebih banyaknya pengeluaran daripada yang didapatkan.

Baca Juga : Manfaat Dana Darurat untuk Usaha, Kamu Harus Punya!

3. Kurangnya Inovasi

Dalam bisnis apapun dan sesukses apapun sebuah bisnis, terdapat tuntutan untuk selalu berinovasi. Setiap perusahaan dituntut untuk selalu peka dalam membaca situasi dan perkembangan di sekitar. 

Apalagi dengan adanya transformasi era digital yang sangat dinamis, membuat fleksibilitas dan kepekaan menjadi kunci penting bagi sebuah bisnis untuk bisa bertahan.

Perusahaan yang gagal mengikuti tren dan permintaan pasar yang dinamis dapat berbuntut pada kebangkrutan.

4. Kurangnya Kapitalisasi Dana

Kekurangan modal atau kapitalisasi dana dapat menyebabkan sebuah bisnis mengalami kebangkrutan. Bagaimanapun, operasional bisnis tidak mungkin berjalan tanpa dana atau modal yang memadai. Namun, beroperasi di luar kemampuan juga bukanlah cara menjalankan bisnis dengan benar.

5. Ekspansi terlalu cepat  

Dalam dunia bisnis, kehidupan yang lambat dan mantap biasanya membawa Kamu untuk memenangkan pertempuran. Jika pasar berubah atau menghadapi kesulitan tertentu, ekspansi prematur biasanya membutuhkan pinjaman modal tambahan, yang dapat menjadi bumerang.

Ekspansi yang terlalu cepat yang berada di luar kemampuan keuangan Kamu akan menguras dan membebani keuangan Kamu dan pada akhirnya menurunkan kualitas.

Kamu mungkin mengalami kerugian, dan produk / layanan Kamu mengalami kesulitan di pasar. 

Pilih konsumen sasaran Kamu dengan bijak dan pertimbangkan cara membayar kembali setiap pinjaman. Mengatakan “tidak” pada dana pinjaman juga merupakan bagian dari menjalankan bisnis. 

6. Menempatkan kepercayaan pada orang yang salah

Dalam sebuah bisnis, sangatlah penting untuk mempekerjakan orang yang tepat dan dapat dipercaya demi kemajuan bisnis yang signifikan.

Tapi, bukan berarti kita sebagai pemilik bisnis mempercayakan segala sesuatu kepada pegawai atau karyawannya, tanpa memberikan kontrol ekstra. 

Untuk itu, selalu pantau walaupun kita telah mendelegasikan tugas atau pekerjaan untuk mencegah terjadinya penyelewengan yang dapat berdampak pada terjadinya kebangkrutan. 

7. Terlalu Banyak Hutang

Sebuah bisnis meminjam dana dari bank dan lembaga pemberi pinjaman merupakan hal yang biasa. Tetapi meminjam tanpa memperhatikan kemampuan untuk membayar utang adalah sebuah kesalahan besar. Kegagalan pembayaran utang dapat menyebabkan perusahaan harus rela untuk menyerah dan bangkrut.

8. Perubahan pola konsumsi pada konsumen

Perusahaan dituntut untuk harus selalu mengikuti pergerakan selera pasar. Namun, kadang kala terjadinya perubahan selera pasar tidak dapat diatasi dengan berinovasi.

Untuk itu, kita harus senantiasa peka untuk membaca peluang-peluang baru yang muncul untuk menghindari bangkrut akibat berubahnya pola konsumsi konsumen selama ini.

9. Tidak mengamati kompetitor

Dalam menjalankan bisnis, tentu kita akan memiliki kompetitor atau pesaing. Terlalu fokus pada kondisi internal dan mengabaikan pergerakan kompetitor juga bisa membuat perusahaan bangkrut karena kita tidak siap bertarung. 

Apalagi jika competitor rajin melakukan inovasi dan terus beradaptasi dengan permintaan pasar. Jadi, mengamati kompetitor adalah salah satu langkah penting yang harus dilakukan pebisnis untuk menghindari kebangkrutan. 

Baca Juga : Apa itu forecasting dalam bisnis?

10. Tidak Memenuhi Target Penjualan 

Target penjualan yang gagal memenuhi target mereka akan sangat merugikan bisnis baru. Ini bisa terjadi jika Kamu terlalu mengandalkan banyak pelanggan.

Misalnya, jika kafe Kamu sangat bergantung pada lalu lintas siswa selama sekolah, Kamu perlu melakukan diversifikasi selama liburan untuk menjaga stabilitas bisnis.  

Satu-satunya cara untuk memastikan bahwa tujuan penjualan dapat tercapai adalah dengan memperoleh wawasan dari data yang ada dan menggunakan wawasan tersebut sebagai dasar untuk melaksanakan strategi pemasaran.  Sistem tempat penjualan (POS) yang canggih dan berkualitas tinggi adalah langkah pertama terbaik untuk memulai.

Coba GRATIS 30 Hari penggunaan Kasir Pintar Pro untuk mendapatkan insight dan wawasan penjualan yang lebih baik dari usaha Kamu

 

Sumber : Lifepal