Aplikasi Kasir dengan Manajemen Karyawan Terbaik untuk Bisnis Multi-Cabang
Manajemen Stok & Karyawan | 14 Agustus 2026
Point of Sales / Manajemen Stok & Karyawan / Make to Stock vs Make to Order, Mana yang Cocok untuk Bisnis?
3 September 2026 | marketing
Setiap bisnis memiliki cara berbeda dalam menyiapkan produk untuk pelanggan. Ada bisnis yang memproduksi barang terlebih dahulu kemudian menyimpannya sebagai stok. Ada pula yang baru mulai memproduksi setelah mendapatkan pesanan.
Dua pendekatan tersebut dikenal sebagai Make to Stock (MTS) dan Make to Order (MTO).
Memilih metode produksi yang tepat dapat memengaruhi banyak hal dalam bisnis, mulai dari pengelolaan stok, kecepatan memenuhi pesanan, kebutuhan modal, hingga risiko produk tidak terjual.
Lalu, apa perbedaan Make to Stock vs Make to Order? Dan mana yang lebih cocok untuk bisnis Anda? Simak penjelasannya berikut.
Make to Stock (MTS) adalah strategi produksi ketika bisnis membuat produk berdasarkan perkiraan permintaan pasar, kemudian menyimpan produk tersebut sebagai persediaan.
Artinya, produk sudah tersedia sebelum pelanggan melakukan pembelian.
Contohnya adalah toko yang menyediakan:
Ketika pelanggan datang, produk sudah tersedia dan dapat langsung dibeli.
Sebuah toko pakaian memperkirakan akan menjual 500 kaus selama bulan tertentu.
Pemilik kemudian menyiapkan stok 500 kaus sebelum seluruh permintaan tersebut benar-benar terjadi.
Jika permintaan sesuai perkiraan, strategi ini dapat membuat bisnis lebih siap melayani pelanggan.
Namun, jika permintaan ternyata hanya 300 kaus, masih terdapat 200 kaus yang menjadi stok.
Inilah salah satu risiko Make to Stock.
Make to Order (MTO) adalah strategi produksi ketika bisnis baru membuat atau menyiapkan produk setelah menerima pesanan dari pelanggan.
Dengan metode ini, bisnis tidak perlu menyimpan produk jadi dalam jumlah besar.
Contoh bisnis yang sering menggunakan pendekatan ini antara lain:
Sebuah usaha menerima pesanan 50 kotak hampers untuk acara perusahaan.
Setelah mendapatkan pesanan, bisnis baru membeli bahan dan mulai menyiapkan hampers sesuai jumlah serta spesifikasi yang disepakati.
Dengan demikian, produksi lebih disesuaikan dengan permintaan aktual.
Perbedaan paling mendasar terletak pada kapan produk dibuat.
Make to Stock:
Prediksi permintaan → Produksi → Simpan stok → Pelanggan membeli
Sedangkan:
Make to Order:
Pelanggan memesan → Produksi → Produk selesai → Pelanggan menerima
Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Karena produk sudah tersedia, pelanggan tidak perlu menunggu proses produksi.
Hal ini cocok untuk produk yang biasanya dibutuhkan secara cepat.
Jika bisnis memiliki data penjualan yang menunjukkan permintaan relatif konsisten, MTS dapat menjadi pilihan yang efektif.
Bisnis dapat memperkirakan jumlah produksi berdasarkan histori penjualan.
Produksi dapat dilakukan dalam jumlah tertentu sesuai perkiraan kebutuhan.
Hal ini memungkinkan bisnis mengatur pembelian bahan baku dan proses produksi secara lebih terstruktur.
Jika produk yang dibuat terlalu banyak, barang dapat menumpuk di gudang.
Untuk produk makanan, minuman, kosmetik, atau barang dengan masa simpan tertentu, stok berlebih dapat meningkatkan risiko kerugian.
Bisnis perlu mengeluarkan uang terlebih dahulu untuk memproduksi atau membeli stok sebelum produk terjual.
Produk dibuat berdasarkan pesanan sehingga bisnis tidak perlu menyimpan banyak produk jadi.
Bisnis dapat menyesuaikan produk dengan kebutuhan pelanggan.
Hal ini sangat cocok untuk produk custom atau personalisasi.
Bisnis dapat membeli bahan atau melakukan produksi setelah mendapatkan pesanan.
Dengan demikian, modal tidak terlalu lama tertahan dalam produk yang belum terjual.
Karena produk belum tersedia, pelanggan membutuhkan waktu sampai pesanan selesai diproduksi.
Ketika pesanan meningkat secara tiba-tiba, bisnis harus mampu mengatur kapasitas produksi.
Jika tidak, pesanan dapat terlambat.
Produk yang dibutuhkan pelanggan secara langsung biasanya kurang cocok menggunakan sistem MTO.
Misalnya kebutuhan pokok yang biasanya ingin dibawa pulang segera.
Tidak ada metode yang selalu lebih baik.
Pilihan bergantung pada karakteristik bisnis.
Jika pelanggan membutuhkan produk dengan cepat dan permintaannya relatif mudah diprediksi, Make to Stock dapat menjadi pilihan.
Sebaliknya, jika produk bersifat custom, memiliki banyak variasi, atau permintaannya sulit diprediksi, Make to Order dapat lebih sesuai.
Sebelum memilih, pertimbangkan beberapa faktor berikut.
Apakah produk dapat disimpan dalam waktu lama?
Jika produk memiliki masa simpan panjang, MTS mungkin lebih mudah diterapkan.
Sebaliknya, produk yang mudah rusak dapat lebih cocok menggunakan pendekatan berdasarkan pesanan.
Perhatikan apakah penjualan produk stabil atau fluktuatif.
Jika data menunjukkan produk selalu terjual dalam jumlah relatif konsisten, bisnis lebih mudah menentukan stok.
Apakah pelanggan menginginkan produk langsung tersedia?
Jika iya, menyimpan stok dapat menjadi keunggulan.
Namun, jika pelanggan bersedia menunggu beberapa hari untuk mendapatkan produk sesuai pesanan, MTO dapat dipertimbangkan.
Semakin tinggi kebutuhan personalisasi, semakin sulit memproduksi barang sebelum pesanan diterima.
Karena itu, produk custom biasanya lebih cocok menggunakan Make to Order.
Bisnis juga perlu melihat kemampuan produksinya.
Jangan sampai bisnis menerima banyak pesanan MTO tetapi tidak memiliki kapasitas untuk menyelesaikannya tepat waktu.
Bisnis tidak selalu harus memilih salah satu.
Dalam praktiknya, beberapa bisnis dapat menggunakan kombinasi Make to Stock dan Make to Order.
Misalnya sebuah toko kue menyediakan:
Make to Stock:
Kue dan pastry yang paling populer dan siap dibeli setiap hari.
Make to Order:
Kue ulang tahun dengan desain dan ukuran khusus.
Dengan pendekatan tersebut, bisnis tetap dapat memenuhi pelanggan yang membutuhkan produk secara cepat sekaligus menyediakan produk custom.
Jika menggunakan Make to Stock, pengelolaan persediaan menjadi sangat penting.
Bisnis perlu mengetahui:
Kesalahan dalam pencatatan dapat menyebabkan stockout atau overstock.
Karena itu, gunakan sistem pencatatan yang dapat membantu memantau persediaan secara lebih rapi.
Bagi bisnis yang menggunakan metode Make to Stock, pencatatan transaksi dan stok menjadi bagian penting dari operasional.
Kasir Pintar dapat membantu bisnis mencatat transaksi penjualan sekaligus mengelola stok sesuai fitur yang tersedia.
Ketika transaksi tercatat secara digital, pemilik bisnis dapat lebih mudah memantau pergerakan produk dan mengevaluasi produk yang memiliki tingkat penjualan tinggi maupun rendah.
Data tersebut dapat digunakan sebagai salah satu dasar untuk menentukan kapan harus melakukan pengadaan atau menyesuaikan jumlah stok.
Dengan pencatatan yang lebih rapi, keputusan produksi tidak hanya mengandalkan perkiraan, tetapi juga dapat mempertimbangkan data penjualan.
Misalnya Anda menjalankan bisnis makanan.
Cookies dapat dibuat dalam jumlah tertentu dan memiliki daya simpan yang cukup baik.
Jika permintaannya stabil, Make to Stock dapat digunakan.
Hampers memiliki desain, isi, dan jumlah yang berbeda sesuai kebutuhan pelanggan.
Untuk produk seperti ini, Make to Order dapat lebih sesuai.
Kue dapat dibuat berdasarkan ukuran, rasa, tema, dan tulisan yang diminta pelanggan.
Maka, pendekatan Make to Order dapat membantu mengurangi risiko produk tidak sesuai permintaan.
Baca Juga : Apa Itu Make to Stock? Strategi Produksi untuk Memenuhi Permintaan Pasar
Baca Juga : Cara Membuat SOP Produksi agar Operasional Lebih Rapi
Make to Stock (MTS) dan Make to Order (MTO) memiliki tujuan yang sama, yaitu memenuhi kebutuhan pelanggan, tetapi menggunakan pendekatan yang berbeda.
Make to Stock memproduksi barang berdasarkan perkiraan permintaan dan menyimpannya sebagai stok. Strategi ini cocok untuk produk dengan permintaan relatif stabil dan pelanggan yang membutuhkan produk dengan cepat.
Sementara itu, Make to Order memproduksi barang setelah mendapatkan pesanan. Strategi ini cocok untuk produk custom, personalisasi, atau produk yang permintaannya sulit diprediksi.
Tidak ada metode yang mutlak paling baik.
Kuncinya adalah menyesuaikan metode produksi dengan karakteristik produk, pola permintaan, kemampuan produksi, modal, dan ekspektasi pelanggan.
Apa pun metode yang digunakan, pastikan pencatatan transaksi dan persediaan dilakukan dengan baik. Dengan dukungan sistem digital seperti Kasir Pintar, bisnis dapat lebih mudah memantau penjualan dan stok untuk membantu mengambil keputusan operasional.
Produksi berdasarkan data, bukan sekadar perkiraan, agar stok tetap terkendali dan bisnis lebih siap memenuhi permintaan pelanggan.
Biar pencatatan tokomu semakin terorganisir, yuk pakai aplikasi kasir, coba dulu sekarang Gratis 30 Hari Percobaan Loh !
Salah satu metode yang mudah dan praktis dalam mencatat penjualan adalah dengan menggunakan Aplikasi Android seperti Kasir Pintar
Kasir Pintar bisa mencatat setiap penjualan dari usahamu dan melakukan beberapa kegiatan seperti :
- Atur stok barang
- Mencatat berbagai macam metode transaksi penjualan
- Laporan usaha lengkap
- Manajemen Pelanggan (CRM)
- Manajemen Karyawan & Cabang Usaha dan masih banyak lagi
Kini hadir! Pintar HR sudah bisa diunduh di Playstore dan siap menjadi solusi terbaik untuk manajemen karyawan yang lebih efisien dan terorganisir. Dengan sistem HRIS berbasis cloud, Anda bisa memantau kehadiran, mencatat rekap absensi, hingga mengelola penggajian secara otomatis dari mana saja.
✅ Harga Terjangkau – Mulai dari Rp 260 per staff per hari
✅ Diskon 50% untuk pengguna Kasir Pintar Pro
✅ Fitur lengkap: Absensi online, rekap kehadiran, hingga laporan gaji
✅ Memudahkan siklus penggajian, tanpa drama akhir bulan
Dengan Pintar HR, Anda tak perlu lagi pusing urus data karyawan manual. Semuanya bisa dilakukan lewat satu aplikasi yang praktis dan efisien. Waktunya upgrade manajemen SDM Anda!
📲 Download sekarang: https://bit.ly/PintarHR
🌐 Info lengkap: pintarhr.com
Artikel Terkait
Artikel Populer
Mulai Bisnis
Bersama Kasir Pintar
Jalankan bisnis secara otomatis dengan
Aplikasi Kasir Pintar dan Coba Gratis selama
30 Hari tanpa syarat